Wayang Kulit Ki Hadi Sugito Selasa Malam

Senin, 03 Juli 2017 - 14:26:08 WIB
Diposting oleh : Merapi Indah | Kategori: Uncategorized - Dibaca: 7456 kali

12 Desember 2017  >  WISANGGENI GUGAT - DALANG KI HADI SUGITO

05 Desember 2017  >  SEMAR BANGUN KAYANGAN - DALANG KI HADI SUGITO

28 Nopember 2017  >  DURNO PICIS          - DALANG KI HADI SUGITO

21 Nopember 2017  >  BAGONG RATU        - DALANG KI HADI SUGITO

14 Nopember 2017  >  ONTOSENO LAHIR  - DALANG KI HADI SUGITO

07 Nopember 2017  >  SETO NGRAMAN      - DALANG KI HADI SUGITO


Kata-kata ‘Pelestari Tradisi’ ini tertulis di situs berita Pemerintah Kabupaten Kulon Progo edisi tanggal 15 Oktober 2015 (1 Suro 1949). Bupati Kulon Progo H. Hasto Wardoyo mengutarakan bahwa ‘dalam puncak peringatan ulang tahun ke-64 Kabupaten Kulon Progo tanggal 15 Oktober 2015 akan di berikan penghargaan kepada almarhum Ki Hadi Sugito sebagai sosok Pelestari Tradisi’. Penghargaan ini sangat tepat karena sebagai dalang wayang purwa gagrag Jogja Ki Hadi Sugito tetap menerapkan tatanan pagelaran wayang klasik sebagaimana telah dirakit oleh para pendahulunya dan telah dirancang oleh para pujangga yang menciptakan pagelaran wayang berdasarkan nilai-nilai seni yang tinggi serta nilai-nilai budaya, filosofis, psikologis dan spiritual yang melekat pada karya cipta tersebut.

 

 

 

Tradisi adalah kebiasaan serta keyakinan yang telah ditularkan turun temurun karena kebiasaan dan keyakinan itu diakui memiliki nilai-nilai yang tinggi yang pantas untuk dilestarikan jangan sampai hilang dari kehidupan manusia. Dalam dunia pagelaran wayang kulit, tradisi yang dianggap bernilai dan pantas untuk dilestarikan mencakup:


1. Tatanan fisik pagelaran wayang kulit yang terdiri dari:

a. Pengaturan layar (kelir) beserta simpingan wayang
b. Tempat duduk dalang beserta peralatan yang diperlukan dan penyusunan wayang  udaran
c. Pengaturan gamelan dan waranggana untuk mendukung pagelaran secara maksimal
d. Tempat yang disiapkan untuk penonton baik dibelakang maupun didepan kelir


2. Tatanan penyajian pagelaran wayang klasik dengan:

a. Tiga babak – pathet nem dari awal hingga gara-gara (+ 3 jam), pathet sanga dari gara-gara hingga jejer utama terakhir, pathet manyura dari jejer terakhir hingga tancep kayon.
b. Dua belas urutan kejadian – (1) Jejer pertama di negara tempat munculnya masalah, (2) Adegan kedatonan Gupitmandragini, (3) Adegan pagelaran jawi, (4) Perang gagal – perang ampyak (jika belum terjadi konflik) atau perang simpangan (jika sudah ada konflik), (5) Jejer kedua biasanya sabrangan atau pihak kedua, (6) Dilanjutkan dengan perang simpangan kedua, (7) Gara-gara yaitu keluarnya Panakawan sebagai tanda masuk klimaks cerita, (8) Jejer pandhita sebagai salah satu pemecah masalah, (9) Perang kembang, (10) Adegan atau jejeran bervariasi sesuai dengan tema dan jalan cerita, (11) Perang brubuh – perang penyelesaian dan penuntasan masalah, (12) Jejer terakhir di negara yang menjadi simbol kebaikan setelah masalah terselesaikan.


3. Tatanan musik iringan klasik:

a. Gending-gending yang baku untuk menghantar jejer-jejer utama: jejer pertama (Ayak-ayak Lasem + Karawitan), jejer kedua diawali dengan lagon Plencung Wetah, gara-gara (Ayak-ayak Jalumampang) dan jejer terakhir (Ayak-ayak Manyura).
b. Iringan untuk wayang jalan maupun wayang perang: (1) Playon Lasem pada babak pathet nem, (2) Playon Sanga pada babak pathet sanga, (3) Playon Manyura pada babak pathet manyura, (4) Sampak Galong saat perang brubuh menjelang tancep kayon.


Pada saat perhatian anak muda tersita oleh masuknya budaya Barat dengan lagu-lagu dan jenis kesenian yang lain, pada tahun 1970-1980an Ki Hadi Sugito dengan berbagai pembaharuan dalam pagelaran wayang kulit mampu menarik minat banyak anak muda untuk kembali menyukai pagelaran wayang kulit. Ki Hadi Sugito menciptakan daya tarik dengan bahasa yang lebih merakyat dan humor-humor yang segar yang tidak hanya terdapat pada sosok Panakawan tetapi juga pada sosok siapa saja ketika momentumnya tepat. Olah vokal yang menarik juga membuat banyak orang tertarik dengan gaya pedalangannya dimana para peraga memiliki jenis suara yang pas dan kontras antara satu dengan yang lain.


Meskipun membuat berbagai pembaharuan, Ki Hadi Sugito tetap konsisten dengan menerapkan tatanan klasik dari pagelaran wayang kulit seperti yang ditulis diatas. Itulah sebabnya Ki Hadi Sugito juga tidak menghendaki adanya adegan limbukan yang banyak dilakukan oleh dalang-dalang masa kini tetapi menyita banyak waktu. Bahkan untuk menggunakan peralatan musik tambahan (drum dan cymbal) untuk menciptakan suasana bombastis selain gamelan pun Ki Hadi Sugito menolak. Beliau beranggapan bahwa peralatan gamelan komplit sudah sangat efektif untuk menciptakan suasana yang dituntut dalam pagelaran wayang kulit.


Ki Hadi Sugito mengandalkan kemampuannya sebagai dalang yang profesional dalam meramu pagelaran agar menarik tanpa harus menggunakan bantuan eksternal baik itu berupa penampil tambahan maupun peralatan musik tambahan. Dengan menerapkan tatanan sajian wayang yang tematis, Ki Hadi Sugito senantiasa menekankan tidak hanya segi tontonan saja tetapi juga segi tuntunannya dalam setiap pagelarannya. Semangat beliau untuk melestarikan tradisi pagelaran wayang klasik yang pada dasarnya sudah sarat dengan nilai-niai yang tinggi terbukti sangat berhasil. Yang pasti, setelah beliau dipanggil Tuhan pada tahun 2008, rekaman pagelaran wayang beliau masih tetap berkumandang setiap malam melalui radio-radio baik analog maupun audio streaming. Dengan lebih dari 80 cerita pagelaran wayang Ki Hadi Sugito yang untungnya sudah sempat masuk dapur rekaman, radio-radio cukup leluasa memilih cerita yang sesuai dengan selera. Sementara itu, para pecinta wayang sanggit Ki Hadi Sugito tidak pernah merasa bosan untuk mendengarkan rekaman beliau meskipun sudah berkali-kali mereka dengarkan.

Semoga dengan disematkannya penghargaan sebagai PELESTARI TRADISI wayang kulit gagrag Jogja klasik kepada almarhum Ki Hadi Sugito ini banyak para penerus dalang muda juga memiliki semangat untuk tetap melestarikan tradisi tersebut. 

 

Berita Terkait