Wayang Kulit Ki Hadi Sugito Selasa Malam

Senin, 03 Juli 2017 - 14:26:08 WIB
Diposting oleh : Merapi Indah | Kategori: Uncategorized - Dibaca: 1257 kali


14 Nopember 2017  >  ONTOSENO LAHIR  - DALANG KI HADI SUGITO

07 Nopember 2017  >  SETO NGRAMAN      - DALANG KI HADI SUGITO


Kata-kata ‘Pelestari Tradisi’ ini tertulis di situs berita Pemerintah Kabupaten Kulon Progo edisi tanggal 15 Oktober 2015 (1 Suro 1949). Bupati Kulon Progo H. Hasto Wardoyo mengutarakan bahwa ‘dalam puncak peringatan ulang tahun ke-64 Kabupaten Kulon Progo tanggal 15 Oktober 2015 akan di berikan penghargaan kepada almarhum Ki Hadi Sugito sebagai sosok Pelestari Tradisi’. Penghargaan ini sangat tepat karena sebagai dalang wayang purwa gagrag Jogja Ki Hadi Sugito tetap menerapkan tatanan pagelaran wayang klasik sebagaimana telah dirakit oleh para pendahulunya dan telah dirancang oleh para pujangga yang menciptakan pagelaran wayang berdasarkan nilai-nilai seni yang tinggi serta nilai-nilai budaya, filosofis, psikologis dan spiritual yang melekat pada karya cipta tersebut.

 

 

 

Tradisi adalah kebiasaan serta keyakinan yang telah ditularkan turun temurun karena kebiasaan dan keyakinan itu diakui memiliki nilai-nilai yang tinggi yang pantas untuk dilestarikan jangan sampai hilang dari kehidupan manusia. Dalam dunia pagelaran wayang kulit, tradisi yang dianggap bernilai dan pantas untuk dilestarikan mencakup:


1. Tatanan fisik pagelaran wayang kulit yang terdiri dari:

a. Pengaturan layar (kelir) beserta simpingan wayang
b. Tempat duduk dalang beserta peralatan yang diperlukan dan penyusunan wayang  udaran
c. Pengaturan gamelan dan waranggana untuk mendukung pagelaran secara maksimal
d. Tempat yang disiapkan untuk penonton baik dibelakang maupun didepan kelir


2. Tatanan penyajian pagelaran wayang klasik dengan:

a. Tiga babak – pathet nem dari awal hingga gara-gara (+ 3 jam), pathet sanga dari gara-gara hingga jejer utama terakhir, pathet manyura dari jejer terakhir hingga tancep kayon.
b. Dua belas urutan kejadian – (1) Jejer pertama di negara tempat munculnya masalah, (2) Adegan kedatonan Gupitmandragini, (3) Adegan pagelaran jawi, (4) Perang gagal – perang ampyak (jika belum terjadi konflik) atau perang simpangan (jika sudah ada konflik), (5) Jejer kedua biasanya sabrangan atau pihak kedua, (6) Dilanjutkan dengan perang simpangan kedua, (7) Gara-gara yaitu keluarnya Panakawan sebagai tanda masuk klimaks cerita, (8) Jejer pandhita sebagai salah satu pemecah masalah, (9) Perang kembang, (10) Adegan atau jejeran bervariasi sesuai dengan tema dan jalan cerita, (11) Perang brubuh – perang penyelesaian dan penuntasan masalah, (12) Jejer terakhir di negara yang menjadi simbol kebaikan setelah masalah terselesaikan.


3. Tatanan musik iringan klasik:

a. Gending-gending yang baku untuk menghantar jejer-jejer utama: jejer pertama (Ayak-ayak Lasem + Karawitan), jejer kedua diawali dengan lagon Plencung Wetah, gara-gara (Ayak-ayak Jalumampang) dan jejer terakhir (Ayak-ayak Manyura).
b. Iringan untuk wayang jalan maupun wayang perang: (1) Playon Lasem pada babak pathet nem, (2) Playon Sanga pada babak pathet sanga, (3) Playon Manyura pada babak pathet manyura, (4) Sampak Galong saat perang brubuh menjelang tancep kayon.


Pada saat perhatian anak muda tersita oleh masuknya budaya Barat dengan lagu-lagu dan jenis kesenian yang lain, pada tahun 1970-1980an Ki Hadi Sugito dengan berbagai pembaharuan dalam pagelaran wayang kulit mampu menarik minat banyak anak muda untuk kembali menyukai pagelaran wayang kulit. Ki Hadi Sugito menciptakan daya tarik dengan bahasa yang lebih merakyat dan humor-humor yang segar yang tidak hanya terdapat pada sosok Panakawan tetapi juga pada sosok siapa saja ketika momentumnya tepat. Olah vokal yang menarik juga membuat banyak orang tertarik dengan gaya pedalangannya dimana para peraga memiliki jenis suara yang pas dan kontras antara satu dengan yang lain.


Meskipun membuat berbagai pembaharuan, Ki Hadi Sugito tetap konsisten dengan menerapkan tatanan klasik dari pagelaran wayang kulit seperti yang ditulis diatas. Itulah sebabnya Ki Hadi Sugito juga tidak menghendaki adanya adegan limbukan yang banyak dilakukan oleh dalang-dalang masa kini tetapi menyita banyak waktu. Bahkan untuk menggunakan peralatan musik tambahan (drum dan cymbal) untuk menciptakan suasana bombastis selain gamelan pun Ki Hadi Sugito menolak. Beliau beranggapan bahwa peralatan gamelan komplit sudah sangat efektif untuk menciptakan suasana yang dituntut dalam pagelaran wayang kulit.


Ki Hadi Sugito mengandalkan kemampuannya sebagai dalang yang profesional dalam meramu pagelaran agar menarik tanpa harus menggunakan bantuan eksternal baik itu berupa penampil tambahan maupun peralatan musik tambahan. Dengan menerapkan tatanan sajian wayang yang tematis, Ki Hadi Sugito senantiasa menekankan tidak hanya segi tontonan saja tetapi juga segi tuntunannya dalam setiap pagelarannya. Semangat beliau untuk melestarikan tradisi pagelaran wayang klasik yang pada dasarnya sudah sarat dengan nilai-niai yang tinggi terbukti sangat berhasil. Yang pasti, setelah beliau dipanggil Tuhan pada tahun 2008, rekaman pagelaran wayang beliau masih tetap berkumandang setiap malam melalui radio-radio baik analog maupun audio streaming. Dengan lebih dari 80 cerita pagelaran wayang Ki Hadi Sugito yang untungnya sudah sempat masuk dapur rekaman, radio-radio cukup leluasa memilih cerita yang sesuai dengan selera. Sementara itu, para pecinta wayang sanggit Ki Hadi Sugito tidak pernah merasa bosan untuk mendengarkan rekaman beliau meskipun sudah berkali-kali mereka dengarkan.

Semoga dengan disematkannya penghargaan sebagai PELESTARI TRADISI wayang kulit gagrag Jogja klasik kepada almarhum Ki Hadi Sugito ini banyak para penerus dalang muda juga memiliki semangat untuk tetap melestarikan tradisi tersebut. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali merilis sandiwara radio berjudul “Asmara Di tengah Bencana (ADB) episode 2 yang mulai siar pada Rabu, 7 Juli 2017. Sandiwara radio ini mendulang sukses pada penyiaran episode pertama tahun lalu.

 

Tingginya ketertarikan masyarakat mendorong BNPB untuk melanjutkan ADB episode 2 pada tahun ini. BNPB memanfaatkan sandiwara radio untuk mengkampanyekan budaya sadar bencana secara luas kepada masyarakat.

Kepala BNPB Willem Rampangilei mengatakan bahwa BNPB memanfaatkan radio karena media ini berbiaya rendah, khususnya tepat untuk menjangkau masyarakat yang tinggal di daerah terpencil.

“Radio sangat efektif dalam memberikan informasi kepada masyarakat yang terdampak bencana ketika alat komunikasi lain tidak berfungsi,” ucapnya pada peluncuran ADB episode 2 yang dikemas dalam Kompasiana Nangkring pada Selasa (6/6) di Graha BNPB, Jakarta.

Di samping itu, ujar Willem, radio dapat digunakan sebagai penyambung hidup atau lifeline ketika krisis dan saat bencana terjadi.

Di sisi lain, sutradara ADB Haryoko menyampaikan bahwa masyarakat dewasa ini mulai meninggalkan media radio seiring perkembangan televisi.

Haryoko mengatakan bahwa pada 1990-an masa sandiwara radio menjadi primadona di Indonesia.

“Televisi masuk dan sandiwara radio kurang diminati. Namun masyarakat di daerah masih membutuhkan hiburan melalui sarana radio,” kata Haryoko di hadapan para blogger Kompasiana.

Salah satu pengisi suara yang telah akrab di telinga kita, Ferry Fadli mengatakan bahwa dirinya tertarik untuk mengisi suara pada ADB. Hal tersebut salah satunya karena sandiwara radio ini memiliki pesan untuk masyarakat, khususnya dalam konteks kebencanaan.

“Melalui sandiwara radio ini kita seperti diingatkan kembali supaya kita  juga mendengar orang lain. kita sudah lama tidak fokus mendengar,” kata Ferry.

Sang pengisi suara Jatmiko ini,  juga menambahkan bahwa budaya mendengar dapat menciptakan imajinasi yang kreatif. Hal senada juga disampaikan oleh Pengamat Komunikasi Politik Effendi Gazali. Menurut Effendi, media radio memiliki keunggulan sendiri.

“Melalui siaran radio, pendengar memiliki ‘hak cipta’ sendiri terhadap para tokoh dalam sandiwara radio tersebut,” kata Effendi. Hal tersebut menjelaskan bahwa setiap individu memiliki imajinasi seperti karakter atau pun fisik, terhadap tokoh dalam sandiwara radio tersebut.

Sementara itu BNPB menyiarkan ADB ini bekerja sama dengan 80 stasiun radio, 60 stasiun radio swasta dan 20 radio komunitas.

Kedelapan puluh stasiun tadi tersebar di 20 provinsi. Sandiwara radio ADB sebelumnya mencatat sukses dengan 43 juta pendengar yang kala itu tersiar di 20 stasiun radio.

 

Simak Sandiwara Radio " ASMARA DITENGAH BENCANA EPS 2 "

BULAN OKTOBER 2017

01-10-17_SANDIWARA_1900-1930

02-10-17_SANDIWARA_1900-1930

03-10-17_SANDIWARA_1900-1930

04-10-17_SANDIWARA_1900-1930

05-10-17_SANDIWARA_1900-1930

06-10-17_SANDIWARA_1900-1930

07-10-17_SANDIWARA_1900-1930

08-10-17_SANDIWARA_1900-1930

09-10-17_SANDIWARA_1900-1930

10-10-17_SANDIWARA_1900-1930

11-10-17_SANDIWARA_1900-1930

12-10-17_SANDIWARA_1900-1930

13-10-17_SANDIWARA_1900-1930

14-10-17_SANDIWARA_1900-1930


BULAN JULI 2017

07-07-17_SANDIWARA_1900-1930

08-07-17_SANDIWARA_1900-1930

09-07-17_SANDIWARA_1900-1930

10-07-17_SANDIWARA_1900-1930

11-07-17_SANDIWARA_1900-1930

12-07-17_SANDIWARA_1900-1930

13-07-17_SANDIWARA_1900-1930

14-07-17_SANDIWARA_1900-1930

15-07-17_SANDIWARA_1900-1930

16-07-17_SANDIWARA_1900-1930

17-07-17_SANDIWARA_1900-1930

18-07-17_SANDIWARA_1900-1930

19-07-17_SANDIWARA_1900-1930

20-07-17_SANDIWARA_1900-1930

21-07-17_SANDIWARA_1900-1930

22-07-17_SANDIWARA_1900-1930

23-07-17_SANDIWARA_1900-1930

24-07-17_SANDIWARA_1900-1930

25-07-17_SANDIWARA_1900-1930

26-07-17_SANDIWARA_1900-1930

27-07-17_SANDIWARA_1900-1930

28-07-17_SANDIWARA_1900-1930

29-07-17_SANDIWARA_1900-1930

30-07-17_SANDIWARA_1900-1930

31-07-17_SANDIWARA_1900-1930

BULAN AGUSTUS 2017

01-08-17_SANDIWARA_1900-1930

02-08-17_SANDIWARA_1900-1930

03-08-17_SANDIWARA_1900-1930

04-08-17_SANDIWARA_1900-1930

05-08-17_SANDIWARA_1900-1930

06-08-17_SANDIWARA_1900-1930

07-08-17_SANDIWARA_1900-1930

08-08-17_SANDIWARA_1900-1930

09-08-17_SANDIWARA_1900-1930

10-08-2017_SANDIWARA_1900-1930

11-08-17_SANDIWARA_1900-1930

12-08-17_SANDIWARA_1900-1930

13-08-17_SANDIWARA_1900-1930

14-08-17_SANDIWARA_1900-1930

15_-_08_-_17__SANDIWARA_1900

 

16_AGUSTUS_2017_GP2_ADB_SPOT

16_AGUSTUS_2017_MK_ADB_SPOT

16_AGUSTUS_2017_PM1_ADB_SPOT

 

17_AGUSTUS_2017_PM1_ADB_SPOT

17_AGUSTUS_2017_GP2_ADB_SPOT

17_AGUSTUS_2017_MK_ADB_SPOT

 

18_AGUSTUS_2017_PM1_ADB_SPOT

18_AGUSTUS_2017_GP2__ADB_SPOT

18_AGUSTUS_2017_MK_ADB_SPOT

 

19-08-17_SANDIWARA_1900-1930

20-08-17_SANDIWARA_1900-1930

21-08-17_SANDIWARA_1900-1930

22-08-17_SANDIWARA_1900-1930

23_AGUSTUS_2017_GP2_ADB_SPOT

24-08-17_SANDIWARA_1900-1930

25-08-17_SANDIWARA_1900-1930

26-08-17_SANDIWARA_1900-1930

27-08-17_SANDIWARA_1900-1930

28-08-17_SANDIWARA_1900-1930

29-08-17_SANDIWARA_1900-1930

30-08-17_SANDIWARA_1900-1930

31-08-17_SANDIWARA_1900-1930

BULAN SEPTEMBER 2017

01-09-17_SANDIWARA_1900-1930

02-09-17_SANDIWARA_1900-1930

03-09-17_SANDIWARA_1900-1930

04-09-17_SANDIWARA_1900-1930

05-09-17_SANDIWARA_1900-1930

06-09-17_SANDIWARA_1900-1930

07-09-17_SANDIWARA_1900-1930

08-09-17_SANDIWARA_1900-1930

09-09-17_SANDIWARA_1900-1930

10-09-17_SANDIWARA_1900-1930

11-09-17_SANDIWARA_1900-1930

12-09-17_SANDIWARA_1900-1930

13-09-17_SANDIWARA_1900-1930

14-09-17_SANDIWARA_1900-1930

15-09-17_SANDIWARA_1900-1930

16-09-17_SANDIWARA_1900-1930

17-09-17_SANDIWARA_1900-1930

18-09-17_SANDIWARA_1900-1930

19-09-17_SANDIWARA_1900-1930

20-09-17_SANDIWARA_1900-1930

21-09-17_SANDIWARA_1900-1930

22-09-17_SANDIWARA_1900-1930

23-09-17_SANDIWARA_1900-1930

24-09-17_SANDIWARA_1900-1930

25-09-17_SANDIWARA_1900-1930

26-09-17_SANDIWARA_1900-1930

27-09-17_SANDIWARA_1900-1930

28-09-17_SANDIWARA_1900-1930

29-09-17_SANDIWARA_1900-1930

30-09-17_SANDIWARA_1900-1930

 

Berita Terkait

5 Komentar

suplier baju distro | 16 November 2017 - 13:10:25 WIB
website ini memberikan segala informasi yang bagus dan bermanfaat
hammer of thor bandu | 17 November 2017 - 07:26:39 WIB
thanks you
produksi baju murah | 22 November 2017 - 09:06:06 WIB
terimakasih karena telah setia menemani dan terus bertahan selama ini.
produsen baju distro | 22 November 2017 - 10:19:49 WIB
Terimakasih atas informasinya yang bermanfaat ini semoga pembaca sangat kagum atas artikelnya
supplier baju distro | 22 November 2017 - 11:49:38 WIB
informasi ini sangat bagus sekali untuk di baca

Isi Komentar








captcha